Situs Informasi Populer Jowo News: Pendidikan

Situs Informasi Populer Jowo News

NQNia.blogspot.com Is a Premium Template Sharing Blog


Setiap kampus memiliki cara masing-masing untuk menyambut mahasiswa baru. Meskipun nama dan cara yang dilakukan setiap perguruan tinggi berbeda-beda namun tujuannya tetap sama, yakni memberikan pemahaman awal tentang kampus sebagai lingkungan akademis.

Berikut dokumentasi kemeriahan orientasi mahasiswa baru dari berbagai perguruan tinggi bergengsi di Indonesia.

1. PPSMB UGM
Penutupan PPSMB Palapa UGM 2016 ini dimeriahkan dengan pembentukan formasi-formasi seperti tahun-tahun sebelumnya diantaranya Kepulauan Indonesia, Indonesia Raya, lambang Garuda Pancasila, lambang ASEAN dan ditambah formasi baru tahun 2016, lambang United Nations.





2. AMERTA UNAIR
Prosesi penerimaan 7100 mahasiswa mahasiswi Universitas Airalngga oleh Rektor Prof. Dr. Moh. Nasih, S.E.,M.T.,Ak. Acara dilanjutkan dengan konfigurasi dari mahasiswa baru angkatan 2016. Seluruh rangkaian acara dilaksanakan di Airlangga Convention Centre, Kampus C Universitas Airlangga Mulyorejo, Surabaya, Jawa Timur.






3. ODM UNDIP





4. INTEGRASI ITB






5. PPAK UNNES 


Kemeriahan Penyembutan Mahasiswa Baru Kampus Bergengsi di Indonesia


Tulisan saya bukan bermaksud untuk menjelekkan pihak manapun. Sehingga apabila ada yang merasa kurang berkenan saya mohon maaf sebesar-besarnya.

Sudah belasan tahun dari playgroup sampai dengan sarjana S1. Saya dan sebagian besar dari kalian disuguhi berbagai macam pelajaran dari yang paling simple sampai yang paling rumit. Entah tidak semua pelajaran tidak benar-benar berguna bagi kehidupan nyata kita.  Semua itu kita tempuh dengan suka duka cita dan tentunya perjuangan yang sangat besar. Hingga akhirnya wisuda S1. Semua itu dirangkum dalam bentuk ijazah. Ya ijazah yang tujuannya hanya untuk mencari kerja.

Apakah hanya bekerja di sebuah perusahaan tujuan kita belajar selama itu?


Hampir seluruh sarjana yang lulus bergegas berburu pekerjaan  entah itu dari JOBFAIR yang diadakan di kampus sampai mengirimkan berkas langsung dari perusahaan yang bersangkutan. Semakin besar nama perusahaan semakin besar pula gengsi dan gaji yang di dapat.

Lalu dengan bekerja di sebuah perusahaan akan membuat kita mendapat uang banyak?


Ya tentunya. Semakin tinggi jabatan kita semakin banyak duit yang akan kita peroleh. Semakin banyak hal yang bisa kita dapatkan. Yang sebelumnya hanya makan instan ketika menjadi mahasiswa sekarang menjadi mie sphageti di retoran kelas berbintang.

Ketika kita mendapat uang banyak apakah kita akan bahagia juga?


Dengan melimpah nya uang kita bisa membeli barang yang kita inginkan. Kita bisa berbangga dengan status agan sebagai juragan kaya. Kita bisa membeli barang yang menambah kenyamanan dan menambah status social kita.

Namun benarkah kita bahagia. Apakah bahagia kita diukur dari seberapa banyak uang dan barang yang kita punya. Bukankah bahagia lebih besar dan lebih hebat dari itu.

Bukankah bahagia itu bisa berbagi dengan sesama yang kurang beruntung?


Siapa yang menolong mereka? Siapa yang akan menyekolahkan mereka? Siapa yang akan membuat hidup lebih mereka layak. Makanan mereka lebih layak. Tempat tinggal mereka lebih layak.
Pemerintah? Kenapa generasi muda selalu menyalahkan pemerintah? Bukankah generasi muda ini sebagai tonggak bangsa ini. Bukankah generasi muda yang seharusnya menjadi barisan paling depan dalam membangun Bangsa ini. Kenapa generasi Muda kita hanya mengeluh pada pemerintah. Tidakkah kita sadar kalau kita juga peran yang besar dalam merusak bangsa ini.

[Sumber]

Dosa Terbesar Para Sarjana (Orang Berpendidikan) Bagi Bangsa Ini


Mahasiswa Bina Nusantara (Binus) University kembali membuat gebrakan di bidang robotik. Setelah dua mahasiswa berhasil menemukan kursi roda yang dapat dikendalikan dengan otak, kini tiga mahasiswa lainnya menciptakan intelligent humanoid robot pertama di Indonesia.

Mereka adalah Reinhard Lazuardi Kuwandy, Oey Kevin Wijaya, dan Christian Tarunajaya, mahasiswa tingkat akhir School of Computer Science Jurusan Teknik Informatika Binus University. Awalnya robot tersebut dibuat untuk memenuhi membuat tugas akhir. Siapa sangka, inovasi itu unggul dan menjadi satu-satunya robot humanoid yang bisa berbahasa Indonesia.

"Robot ini mampu mengenali wajah serta ucapan manusia menggunakan bahasa Indonesia, sekaligus merespons dengan bahasa Indonesia juga. Ini merupakan satu-satunya robot humanoid di Tanah Air yang mampu melakukan hal secanggih ini," ujar dosen pembimbing Dr Widodo Budiharto, S.Si, M.Kom, di Kampus Binus Anggrek, Jakarta, Jumat (4/3/2016).

Widodo menjelaskan, penelitian robot tersebut mendapat dana hibah ristek insinas dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) pada 2015. Dosen jurusan teknik informatika itu tak menampik jika proses pembuatan robot membutuhkan dana yang cukup banyak.

"Robot ini dinamai Bimax yang berarti ‘Binus dan maksimum’. Penemuan ini dapat membantu pekerjaan manusia, khususnya di bidang pendidikan dan hiburan," tutur Reinhard Lazuardi.

Ia menambahkan, mekanisme kerja robot Bimax dimulai dari pengenalan wajah menggunakan kamera, kemudian melakukan pengenalan suara. Robot memproses input suara. Setelah proses penerjemahan selesai, robot akan menjawab pertanyaan yang diajukan.

"Kalau input salah, robot tak mengenali. Dia lalu akan bertanya lagi sampai orang yang mengajak interaksi mengatakan 'tidak terima kasih'," tukasnya.

*Okezone.com

Mahasiswa Binus Ciptakan Robot Berbahasa Indonesia


Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) memenangkan Lomba Inovasi Bulan K3 Pertamina RU IV Cilacap pada 25 Februari 2016 lalu. Tim Peneliti Joss dari Fakultas Teknik (FT) UGM meraih juara 1 kategori mahasiswa dengan mengajukan model pengaturan intensitas cahaya lampu otomatis berbasis sensor cahaya alami.

Lomba Inovasi Bulan K3 ini diselenggarakan oleh Pertamina RU IV Cilacap. Diikuti 50 peserta yang berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa di Indonesia. Dalam kompetisi ini tim UGM yang terdiri dari Muhammad Hasan Habib, Handika Putra, dan Irfan Joyokusumo dari Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi (DTETI) FT berhasil menyisihkan 24 tim lainnya dari berbagai perguruan tinggi Indonesia. Beberapa diantaranya Institut Teknologi Bandung, Universitas Sumatera Utara, Universitas Jendral Soedirman, Universitas Negeri Malang, dan Universitas Airlangga.

Ketua Tim Joss UGM, M. Hasan Habib mengatakan dalam kategori mahasiswa, lomba kali ini diikuti sebanyak 25 tim dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia. Selanjutnya dipilih delapan besar yang dinyatakan lolos untuk presentasi dalam babak final di Cilacap.

“Saat final kami mempresentasikan dan melakukan demo model pengaturan intensitas cahaya lampu otomatis berbasis sensor cahaya alami (Wi-LLC). Alhamdulillah dinyatakan sebagai yang terbaik,” tuturnya, Rabu (2/3/2016) di DTETI FT UGM.


Berbasis Sensor

Model pengaturan intensitas cahaya lampu otomatis berbasis sensor cahaya alami yang dikembangkan Tim Peneliti Joss UGM ini dinamai Wireless Light Luxs Controller (Wi-LLC). Dikembangkan untuk mengurangi konsumsi energi listrik dengan memanfaatkan cahaya alami.

“Sekitar 9-20 persen konsumsi energi di Indonesia belum optimal terutama di sektor pencahayaan. Hal itu mendorong kami untuk mencari solusi atas persoalan tersebut,” jelas Habib.

Berawal dari kenyataan tersebut mereka berupaya memanfaatkan cahaya alami dari sinar matahari untuk mereduksi penggunaan energi listrik. Dengan Wi-LLC ini nantinya satuan tingkat pencahayaan (luxs) pada lampu konvensional dapat direduksi oleh tambahan luxs cahaya alami.

“Memanfaatkan cahaya alami untuk mengurangi pemakaian energi listrik. Model seperti ini yang tengah kami kembangkan,” imbuh Handika Putra.

Handika menjelaskan Wi-LLC tersusun dari tiga komponen utama. Komponen tersebut adalah lampu LED, main controller, dan sensor cahaya wireless. Alat akan bekerja saat cahaya alami masuk ke dalam ruangan maka sensor akan menangkap rangsang cahaya tersebut. Selanjutnya, sensor akan mengirimkan data pada main controller secara wireless.


Main Controller

Kemudian main controller akan mengidentifikasi kuantitas cahaya alami yang diterima oleh sensor. Data akan diolah dalam main controller lalu hasilnya akan digunakan untuk mengendalikan lampu agar luxs yang dikeluarkan lampu berkurang sebesar luxs cahaya alami yang masuk.

“Misal ada cahaya alami masuk ruangan sebesar 20 persen, maka jumlah tersebut akan berkontribusi mengurangi kerja lampu hingga 20 persen. Jadi kerja lampu hanya 80 persen saja,” paparnya.

Model Wi-LLC ini telah dilirik oleh Pertamina RU IV Cilacap. Karenanya Habib dan kawan-kawan terus melakukan riset untuk mewujudkan produk Wi-LLC yang teruji secara laboratorium dan juga berlisensi.

“Saat ini kami fokus riset untuk menjadikan produk ini. Harapannya bisa jadi tahun ini,” tambah Irfan Joyokusumo.

Irfan mengatakan kedepan mereka akan menambahkan beberapa grup lampu terkendali dalam alat ini. Selain itu juga akan meningkatkan kehandalan sensor cahaya wireless.

“Nantinya kami juga akan tambahkan fasilitas penyimpan data yang membantu pengguna memantau perkembangan energi yang bisa direduksi,”ujarnya.

*Okezone.com

Mahasiswa UGM Kembangkan Teknologi Lampu Sorot Otomatis

Meraih juara pertama di kelas bukan hal yang asing bagi Senja Fitriana. Bagaimana tidak, mahasiswi Prodi Pendidikan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) itu sudah langganan menjadi bintang kelas sejak masih sekolah dasar (SD).

Kerja keras Senja menjadi siswa berprestasi membuahkan hasil. Dia diterima di UNY melalui Seleksi Nasional Masuk Perguran Tinggi Negeri (SNMPTN) 2014, bahkan mendapat beasiswa bidikmisi dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti).

"Ayah sudah siap berhutang untuk biaya kuliah. Yang bisa dijangkau oleh orangtua, akan dibiayai," ujarnya disitat dari laman UNY, Jumat (4/3/2016).

Senja menceritakan, sejak SMP sudah ditinggal ayahnya, Sarkim, yang merantau ke Makassar dan bekerja sebagai penjaga toko. Gadis kelahiran 9 Februari 1997 itu tinggal bersama sang ibu, Wahyuti, di Kebumen. Sejak SD, dia selalu membawa kudapan atau makanan kecil untuk dijual di sekolahnya, SDN 1 Sempor.

Kini, Senja menjadi mahasiswa rantau yang hidup sendiri di Yogyakarta. Kendati demikian, dia tak pernah mengubah pola belajarnya. Setiap hari, Aktivis Himpunan Mahasiswa Biologi FMIPA itu belajar antara pukul 18.00 hingga 21.00. Hasilnya, Senja berhasil meraih IPK 3,85.

"Sejak sekolah, orangtua selalu membelikan buku-buku yang membuat saya termotivasi belajar. Orangtua selalu menekankan bahwa pendidikan harus selalu dikejar," tuturnya.

Warga Desa Sempor, Kabupaten Kebumen itu menambahkan, sejak masuk semester tiga tugas kuliahnya semakin banyak. Dia pun harus pandai mengatur waktu untuk mempertahankan prestasinya tersebut. Manurutnya, setiap ada tugas harus langsung dikerjakan sehingga tidak menumpuk.

"Tidur tiga jam per hari itu sudah biasa. Setelah sholat magrib mengerjakan tugas hingga selesai. Saya ingin ke depan bisa studi ke luar negeri melalui beasiswa LPDP," tutup mahasiswi yang juga aktif di UKM Penelitian UNY tersebut.

*Okezone.com

Dapat Bidikmisi, Anak Penjaga Toko Ini Raih IPK 3,85


Masker merupakan salah satu metode perawatan kulit secara alami untuk memutihkan, menghaluskan maupun melembabkan kulit wajah. Hingga saat ini, masker masih dibutuhkan masyarakat khususnya wanita untuk perawatan wajah dan menjaga penampilannya. Berkaitan hal itu, sejumlah mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) berinovasi membuat masker kulit berbahan dasar cangkang telur.

Mereka adalah Ujang Herlan Permana dari Program Studi (prodi) Pendidikan Matematika dan Desi Novi Dayana dari Prodi Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), serta Luthfi Nurlaily dan Karyati dari Prodi Pendidikan Akuntansi, dan Chatarina Ayu dari Prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) UNY.

Ujang Herlan Permana mengatakan, hingga saat ini telah tercipta berbagai jenis produk perawatan wajah dengan variasi bahan baku yang digunakan, antara lain bengkuang, beras, sampai cokelat. Bahan-bahan yang dibutuhkan dalam membuat masker tersebut merupakan bahan-bahan alami yang memberikan banyak manfaat serta sebisa mungkin tidak memberikan dampak buruk.

"Selama ini masker yang beredar di pasaran mengandung bahan kimia, oleh karena itu sekelompok mahasiswa UNY membuat masker berbahan alami dari cangkang telur," ujarnya.

Dia menjelaskan, cangkang telur memiliki kalsium dan mineral yang sangat dibutuhkan untuk perawatan kulit, khususnya memutihkan dan membuat kulit tampak lebih cerah.

"Dalam kehidupan sehari-hari penggunaan telur ayam sangat banyak dijumpai. Banyaknya jenis masakan yang menggunakan telur ayam mengakibatkan peningkatan jumlah limbah cangkang telurnya. Dari sinilah tercetus ide untuk memanfaatkan limbah tersebut sekaligus meningkatkan nilai ekonomi cangkang telur," paparnya.

Sedangkan Luthfi Nurlaily menuturkan, cara pembuatan masker yang disebut crem cate (krim cangkang telur) ini cukup sederhana. Bahan yang digunakan adalah cangkang telur yang telah disterilkan, talc, glycerin, propilen glikol, carboxy methyl cellulose, aroma therapy, tepung beras dan air. Cangkang telur dihaluskan kemudian dicampurkan dengan bahan-bahan tersebut.

Adonan ini membentuk krim yang siap dikemas dalam botol. Pengguna crem cate, setelah menggunakan crem ini wajahnya menjadi bebas jerawat, serta wajah menjadi segar, kulit menjadi lebih kencang dan halus.Kreativitas ini berhasil meraih dana Dikti dalam program kreativitas mahasiswa bidang kewirausahaan.

Ia menambahkan, kulit membutuhkan beberapa vitamin, seperti vitamin A yang diperlukan tubuh untuk merangsang perbaikan sel-sel kulit, vitamin C yang diperlukan untuk memproduksi kolagen, protein yang sangat diperlukan agar kulit elastis, kencang, dan bebas keriput serta vitamin E yang dibutuhkan kulit untuk menjaga kesatuan jaringan kulit.

[Sumber]

Kulit Mulus dengan Masker Cangkang Telur

Tiap tahun calon mahasiswa di Indonesia sibuk karena harus memilih jurusan di universitas yang ia masuki. Ini adalah momen penting karena memilih jurusan berkaitan dengan karier dan masa depan mereka. Karena itu harus dipikirkan masak-masak sebelum menyesal di kemudian hari.

Namun untuk mewujudkan karier tersebut kadang tidak mudah. Mereka harus menempuh pendidikan sesuai dengan jurusan yang kadang tantangannya cukup sulit. Perlu kerja keras dan dedikasi maksimal agar untuk melaluinya.

Ada beberapa jurusan kuliah yang terkenal maha pelik di Indonesia. Namun bukan berarti jurusan lain tidak sulit. Semua kembali kepada individu yang berkecimpung di jurusan tersebut. Ini dia penjelasannya.

1. Teknik Sipil
www.tekniksipil-unnes.ac.id
Salah satu cabang ilmu teknik ini termasuk jurusan paling sulit namun juga paling diminati di Indonesia. Teknik sipil mempunyai ruang lingkup yang luas. Di dalamnya meliputi matematika, fisika, biologi, geologi, lingkungan, hingga komputer dengan peranannya masing-masing.

Teknik sipil dikembangkan sejalan dengan kebutuhan manusia dan pergerakannya. Tak heran, mahasiswa teknik sipil harus memahami bagaimana merancang, membangun, dan merenovasi, tidak hanya gedung dan infrastruktur, tapi juga mencakup lingkungan untuk kemaslahatan hidup manusia.

2. Ilmu Ekonomi
www.unpad.ac.id
Dinamisnya perilaku manusia dalam prinsip ekonomi secara tidak langsung memengaruhi jurusan yang satu ini. Yang dipelajari tentunya tak hanya uang, tapi juga perilaku atau sebab akibat dari kegiatan ekonomi.

Tiga ilmu inti ekonomi yang nantinya mesti dipelajari di jurusan ini yakni ekonomi makro, ekonomi mikro, dan alat kuantitatif. Belum lagi cabang ilmu ekonomi seperti ekonomi publik, ekonomi moneter, ekonomi pembangunan, ekonomi bisnis, dan lain-lain.

Dengan demikian, untuk memasuki jurusan ini dibutuhkan keterampilan verbal, konsistensi, dan kemauan keras.

3. Matematika dan Statistika
ujiansma.com
Sebagaimana namanya, matematika telah melekat dengan kesan sulit. Memahami matematika membutuhkan kerja keras dan dedikasi. Dengan demikian, kamu harus menghabiskan waktu dan usaha untuk memahami bahasa matematika yang dipenuhi rumus, teori, angka. Tidak heran, kalau kamu tidak menyukai matematika, kamu dipastikan akan frustasi.

Matematika sering disebut sebagai ibu sekaligus pelayan ilmu pengetahuan. Hal ini dikarenakan, matematika menjadi ilmu pengetahuan dasar bagi ilmu pengetahuan terapan sekaligus mempermudah penyelesaian permasalahan dalam ilmu-ilmu lainnya.

Bahasa matematika yang dipenuhi rumus, teori, dan angka adalah sesuatu yang harus dihadapi setiap hari. Nantinya, lulusan ini diarahkan untuk dapat menciptakan solusi permasalahan dari fenomena-fenomena kehidupan dengan menyederhanakan permasalahan tersebut menjadi model matematika.

Sedangkan statistika sebagai turunan dari matematika, membuat orang yang memilih jurusan ini harus berjibaku dengan tabulasi dari data. Dibutuhkan kemampuan mengolah dan menyajikan data dalam bentuk analisa yang berguna bagi kemajuan dan perencanaan masa depan.

4. Arsitektur
arsitektung.blogspot.com
Jangan dikira untuk masuk jurusan ini hanya butuh kemampuan menggambar. Teknik Arsitektur justru merupakan perpaduan antara seni dan teknik bangunan yang di dalamnya termasuk perencanaan, konstruksi, dan penyelesaian dekoratif yang mempelajari bentuk fisik ruang buatan.
Arsitektur tak hanya terbatas pada bangunan saja interior, eksterior, kawasan, dan lebih luas mempelajari perencanaan kota. Yang dipelajari dalam teknik arsitektur bukan hanya sekadar belajar menggambar.

Dibutuhkan ide kreatif, kepedulian terhadap lingkungan, serta pengetahuan luas tentang banyak hal agar bangunan dapat berfungsi dengan baik.

5. Farmasi
www.umm.ac.id
Biasanya, yang pertama terlintas dalam pikiran saat mendengar jurusan ini adalah obat-obatan. Tak sepenuhnya salah. Farmasi mempelajari seluk-beluk obat-obatan alami maupun sintetik.

Jurusan yang paling banyak diincar di Indonesia ini mengharuskanmu memiliki pengetahuan yang baik di bidang Kimia, Biologi, Kesehatan Masyarakat, sampai ke Manajemen dan Pemasaran.
Untuk bisa lulus dari jurusan ini, butuh pengorbanan besar. Laporan praktikum yang menumpuk adalah sesuatu yang harus dihadapi saat memilih jurusan ini.

6. Teknik Informatika
www.berkuliah.com
Mahasiswa di jurusan ini nantinya harus mempelajari bagaimana penerapan logika matematika dalam pengelolaan informasi yang meliputi transformasi data atau pengolahan fakta simbolik dengan memanfaatkan teknologi komputer. Kemampuan utama yang dibutuhkan untuk jurusan ini yakni berpikir logis dan terstruktur.

Pada perkembangannya, mahasiswa teknik informatika diantuk untuk menguasai ilmu dan keterampilan rekayasa informatika, serta menciptakan piranti lunak dalam pengolahan data. Bisa dibayangkan betapa peliknya jurusan yang satu ini.

7. Kedokteran dan Bedah
news.okezone.com
Mahasiswa kedokteran nantinya selalu berhubungan dengan kehidupan manusia yang beragam dan dinamis. Perlu penguasaan di bidang mendiagnosis dan mengobati penyakit serta cara-cara mencegahnya. Tak hanya dari aspek medis, tapi juga dari aspek psikis, sosial, dan budaya.

Tak hanya ilmu dasar seperti anatomi, fisiologi, biokimia, yang harus dipelajari nantinya, tapi juga pendamping ilmu klinis seperti patologi, farmakologi, psikiatri, dan lain-lain. Tak heran, setidaknya butuh waktu 5-6 tahun untuk menyelesaikan kuliah di jurusan ini.

[Sumber]


7 Jurusan Kuliah Paling Sulit di Indonesia


Tangan Ettikasari kecil terbiasa berlumur tanah liat basah, bahan baku pembuat batu bata. Kegiatan ini rutin dijalaninya hingga tiba masanya Tika, demikian dia biasa disapa, harus meneruskan studi di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

"Setelah kuliah, saya hanya bisa membantu orangtua saat libur di rumah," kata Tika, seperti dinukil dari laman UNY, Selasa (16/2/2016).

Gadis berjilbab ini sempat memendam keinginan kuliah lantaran kondisi ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan. Sang ayah, Suripto dan sang ibu, Sarmini hanya bekerja sebagai pembuat batu bata.

Penghasilan mereka hanya Rp500 ribu untuk 1.000 batu bata yang telah melalui proses pembakaran. Jika dijual tanpa dibakar, maka keduanya hanya dapat mengantongi uang Rp250 ribu per 1.000 buah batu bata. Penghasilan itu harus dipotong Rp150 ribu untuk modal membeli satu bak pikap tanah liat.

Menurut Sarmini, Tika pernah mengungkapkan keinginannya kuliah saat duduk di kelas 2 SMK. "Saya bingung saat itu karena keterbatasan ekonomi, namun suami saya mendorong keinginan Tika untuk kuliah. Alhamdulillah dia berhasil mendapatkan bidikmisi," tutur Sarmini.

Meski di tengah keterbatasan, Tika tidak lupa mencetak prestasi akademis. Sejak di sekolah dasar, Tika selalu mengantongi peringkat pertama di kelas. Prestasi Tika tidak surut selama menjadi murid di SMKN 1 Klaten.

"Saya mendapat beasiswa dari Titian Foundation, dan salah satu alumninya memotivasi agar saya melanjutkan kuliah, bahkan dibiayai untuk ikut bimbingan belajar. Saya juga didorong untuk mendaftar kuliah dan berupaya mendapatkan beasiswa bidikmisi," papar gadis kelahiran Klaten, 23 Desember 1994 itu.

Memilih program studi Manajemen Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan UNY, Tika tidak menyia-nyiakan kesempatannya meraih ilmu. Di kampus, dia rajin menorehkan berbagai prestasi. Nilai IPK-nya mencapai 3,71. Tika juga aktif dalam UKM Penelitian UNY dan Himpunan Mahasiswa Administrasi Pendidikan FIP UNY.

"Buat saya, aktif di kegiatan kemahasiswaan itu mengasyikkan, karena ada tantangannya. Seperti manajemen waktu, membuat prioritas mana hal yang harus dikerjakan lebih dahulu, dan sebagainya," imbuh juara II Mahasiswa Berprestasi Tingkat Jurusan pada 2014 dan 2015 itu.

Saat ini, Tika sedang bersiap mengikuti Program Pengalaman Lapangan (PPL) di Dinas Pendidikan Kabupaten Klaten, menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) serta mempersiapkan skripsi. Tidak lama lagi, gadis pembuat batu bata itu pun akan meraih gelar sarjana.

[Sumber]

Ettikasari, Pembuat Batu yang Jadi Mahasiswa Berprestasi


Baru kali ini, saya menguji skripsi mahasiswa, dimana ada seorang mahasiswa tidak mampu mempertahankan apa yang ia teliti, dan harus mengulang proses sidang skripsinya dengan syarat, data primer dan analisisnya mesti dipermak total?

Sehingga, pada akhir penutupan Sidang, suasana menjadi kurang kondusif untuk larut bersama kebahagiaan mahasiswa lainnya, yang lulus dalam sidang skripsi dan komprehensif itu.

Dengan berbagai perasaan yang tidak menentu pula, saya merasakan kesedihan yang luar biasa, karena sesuatu yang mestinya berjalan secara alamiah, wajar dan lancar-lancar saja, tiba-tiba muncul persepsi dan dugaan yang melahirkan pertanyaan, “apa sih yang sebenarnya terjadi di benak mahasiswa, ketika mereka akan dan sedang menghadapi sidang skripsi?”

Memang bagi sebagian besar mahasiswa, saat-saat dimana ia harus menyelesaikan skripsinya, adalah saat dunianya diselimuti oleh kegelisahan, kekuatiran, dan kecemasan. Jangankah mahasiswa S1, mereka yang akan mengakhiri program pasca sarjana saja merasakan hal yang sama ketika mereka akan dan sedang melakukan Sidang Tesis dan Disertasinya.

Seringkali, kita sendiri tidak mampu melampaui perasaan gelisah, kuatir dan cemas dengan aktivitas yang satu ini, sehingga banyak mahasiswa yang mengalami kegagalan, hanya gara-gara tidak mampu melampaui kegelisahan, kecemasan dan kekuatirannya sendiri, sehingga pada saat sidang skripsi berlangsung mereka begitu sulit mengatakan apa yang sebenarnya sudah ada di dalam batok kepalanya itu!

Padahal, saya selaku dosen penguji tidak pernah bertanya sesuatu yang tidak mahasiswa ketahui. Bahkan, saya senantiasa memotivasi mereka agar tetap tenang, jernihkan pikiran dan anggap semua ini hanya diskusi biasa. Tapi, herannya mereka menganggap Sidang Skripsi itu ‘sesuatu’ bingits, sehingga mendengar nama aktivitas itu saja, sudah berdiri bulu-kuduk mereka?! Mungkin, hal ini yang dinamanakan sebagai ‘sindrome tugas akhir’ kaleee ya?

Saya, juga punya anak kandung yang saat ini sedang menjalani proses akhir dalam perkulihannya, alias sedang menyusun skripsi. Saya selalu bilang pada anak saya, bahwa membuat skripsi itu sama halnya meletakkan cucian piring dan gelas, lalu dimasukkan ke dalam lemari, yang tentunya bukan lemari pakaian khan?.

Artinya, bahwa menulis skripsi itu, sama halnya dengan menulis apapun, cuma bedanya kalo skripsi itu perlu dibarengi dengan proses penelitian, yang aturan mainnya sudah ada di setiap kampus.

Sebenarnya, kita bisa menulis skripsi, karena sudah membaca skripsi-skripsi sebelumnya. Hal yang sama juga, kita bisa membuat Cerpen alias Cerita Pendek, karena sudah pernah membaca Cerpen itu sebelumnya. Lalu, apanya yang susah?! Bagi saya sih, yang susah ya kemauannya untuk membaca karya-karya ilmiah sebelumnya itu. Iya khan ?. Ngaku aja....!

Saya menyadari, bahwa di era informasi sekarang ini, kita semua tenggelam dalam lautan informasi. Karena, selain informasi tersebut selalu ada di genggaman kita, ternyata kita sendiri tidak mampu memilah-memilih informasi yang bermanfaat untuk hidup kita, saat ini. Pada saat kita tenggelam di lautan informasi, maka kita tak akan mampu mengenali mana informasi yang baik atawa yang buruk untuk diri kita sendiri. Karena itu, kita perlu secara tegas menentukan siapa diri kita, dan informasi apa yang berguna bagi hidup kita ?!
Dulu, sewaktu saya menjadi mahasiswa S1, pada saat saya ingin mengakhiri perkuliahan atawa menyusun skripsi, persepsi yang ada dibenak saya adalah ingin mengakhiri kuliah dengan ‘khusnul khotimah’ alias dengan kebanggaan, bukan dengan kecematasan dan kegelisahan?! Dengan persepsi ‘khusnul khotimah’ inilah, saya bisa menjadikan aktivitas akhir perkuliahan saya, saat itu, begitu menggairahkan dan penuh semangat.

Sehingga, saya banyak mendapatkan pengetahuan baru, ide baru, bahkan temuan-temuan baru. Dan, pada saat mengikuti Sidang Skripsi, sayapun mengajak orang terkasih alias ‘pacar’ untuk menyaksikan betapa semangatnya saya pada saat itu. Namun, sangat disayangkan, sang ‘pacar’ tidak menjadi ‘istri’ saya sekarang ?!. Hick .. hick .. hick ....

Menurut saya, mengapa para mahasiswa saat ini, memiliki asumsi bahwa sidang skripsi itu begitu mengerikan, karena mereka tidak mampu memiliki mentalitas ilmiah selama proses perkuliahan berlangsung. Mentalitas ilmiah merupakan sikap batin seorang mahasiswa, yang diterapkan melalui cara berpikir ilmiah di dalam kehidupan sehari-hari.

Padahal setiap mahasiswa selama mengikuti perkulihan selalu diajak atau dikondisikan agar mereka menjadi insan akademis, intelektual, bahkan didorong untuk selalau berpikir ilmiah, sistematis dan logis. Tapi, sayangnya mentalitas ilmiah ini tidak tumbuh dan berkembang dalam dirinya. Sehingga, pada saat menyusun dan mengikuti sidang skripsi tiba, yang terjadi justru perasaan gelisah, cemas, kuatir plus galau bingits?!

Syarat pertama dari mentalitas ilmiah adalah kemampuan untuk mengamati apa yang ada di kenyataan hidup mahasiswa sehari-hari. Pada titik ini, pengalaman sehari-hari bukan hanya sebagai obyek untuk dilihat, tetapi sebagai sesuatu yang diamati dan dialami. Mahasiswa yang memiliki mentalitas ilmiah selalu berpikir dari pengalaman yang diamati.

Ia tidak hidup dalam takhayul, ataupun gosip. Berpijak pada pengalaman dan pengamatan inilah, tumbuhlah rasa penasaran di dalam dirinya. Rasa penasaran ini merupakan awal dari proses belajar, dan awal dari ilmu pengetahuan itu sendiri. Rasa penasaran muncul karena rasa kagum terhadap apa yang ada, atau apa yang terjadi, misalnya keindahan alam, keberadaan masyarakat, dan sebagainya. Rasa penasaran mendorong penjelajahan intelektual maupun spiritual mahasiswa itu sendiri.

Selanjutnya, bahwa bentuk konkret dari rasa penasaran adalah pertanyaan. Siapa yang berpikir, dia pasti bertanya. Bertanya adalah simbol dari tindak berpikir manusia. Pertanyaan yang bermutu jauh lebih berharga daripada jawaban-jawaban kaku, yang merasa sudah pasti akan rumusannya sendiri. Dari pembiasaan terhadap proses untuk mengembangkan mentalitas ilmiah ini, sebenarnya sudah cukup memadai, jika saja si mahasiswa tersebut mengikuti proses perkuliahan dengan baik. Namun, lagi-lagi banyak mahasiswa yang masih tenggelam dalam lautan informasi, sehingga mereka tak lagi mampu memilah dan memilih informasi yang berguna bagi dirinya sendiri.

Pada akhirnya, pesan yang bisa saya sampaikan kepada para mahasiswa yang sedang dan akan menyusun skripsi atawa tugas akhir dalam program studinya yaitu, “Tuhan selalu bersama mahasiswa semester akhir, jadi jangan gelisah, cemas atawa kuatir, apalagi galau. Hadapi semua proses studi ini dengan mentalitas ilmiah yang kalian miliki selama proses perkuliahan berlangsung selama ini.” Gitu aja kok repot?! Wallahu A’lamu Bishshawwab.

Bekasi, 08 Februari 2016. | Oleh. Purwalodra

[Sumber]

Tuhan, Bersama Mahasiswa Semester Akhir?


Putri sulung dari pasangan Miftahuddin dan Marmina bernama Yassaroh pada bulan Juni nanti akan berangkat ke Belanda, Yassaroh wanita berusia 25 tahun ini akan melanjutkan kuliah S3 di Bidang Ilmu Kimia lantaran berhasil mendapatkan beasiswa untuk berkuliah lagi di Perguruan Tertinggi yang ada di Negara Belanda, Universitas Groningen.

Setelah mendapatkan impiannya yaitu mendapatkan gelar PhD, Yasaroh pun berjanji akan segera kembali ke Tanah Air Indonesia.

Yassaroh gadis yang lahir di Kota Surakarta, Jawa Tengah pada 23 mei 1991 ini mengaku sangat bersyukur atas kesempatan yang telah di dapatkannya untuk bisa menimba ilmu di Negara Belanda, Yassaroh pun menyebutkan jika apa yang telah di dapatkannya ini tidak lepas dari dorongan kedua orang tuanya tercinta.

"Semoga yang saya lakukan ini bisa menjadi Inspirasi dan juga Motivasi untuk teman - teman yang masih muda." Ucap Yassaroh.

Dari kecil Yassaroh sendiri tergolong merupakan seorang yang cerdas saat duduk di bangku SD sampai SMA Yassaroh tidak pernah absen 1 kali pun untuk tidak menjadi juara kelas.

Pendidikan tertinggi yang telah di tempuhnya Di Fakultas MIPA Universitas Negeri Makassar, Gelar Sarjana berhasil dirampungkan dengan begitu mudah oleh Yassaroh terbukti dari nilai IPK 3,97 dan selanjutnya S2 di lanjutkan di Institut Teknologi Bandung ( ITB ), Dan lagi - lagi Yassaroh berhasil mendapatkan Nilai yang sangat gemilang yaitu IPK 3,88.

Yang sangat menarik adalah keluarga Yassaroh yang bukan dari kalangan pejabat atau orang yang kaya raya, melainkan keluarga Yassaroh merupakan orang biasa di mana Ayahnya adalah seorang penjual Siomay keliling sedangkan Ibunya adalah penjual Nasi Goreng.




Terkait prestasi segudang yang di ukir anaknya, Miftahuddin selaku Ayah Yassaroh mengaku jika pendidikan itu sangatlah penting.

Marmina pun tak lupa dengan apa yang telah dilakukan anaknya tersebut yang mana semasa dirinya masih SD sampai SMA tidak pernah sekalipun bolos dari bantu orang tua berjualan nasi goreng.

"Ada kemungkinan karena namanya Yassaroh yang mana berarti dalam Al-Qur'an adalah ( Di Mudahkan Jalannya )." Tutur Marmina ibu Yassaroh.


Atas beberapa prestasi yang sudah di dapatkan oleh Yassaroh di bidang Pendidikan ini, banyak lembaga - lembaga yang memberikan penawaran kepada Yassaroh beasiswa dan salah satunya adalah Lembaga Pengelola Dana Pendidikan ( LPDP ) yang mana akan memberikan Beasiswa untuk Yassaroh berkuliah Di Belanda selama 4 Tahun.

"Apa yang sudah saya dapatkan saat ini, belum seberapa jika di bandingkan dengan jerih payah kedua orang tua saya yang sudah berjuang untuk saya." Ucap Yassaroh.

[Sumber]

Putri Tukang Siomay Dapat Biasiswa S3 Ke Belanda



Sejak 5 tahun kemarin jurusan Pendidikan Ekonomi Unnes membuka kelas bilingual. Pendidikan ekonomi yang memiliki 3 konsentrasi yaitu Pendidikan Akuntansi, Pendidikan Administrasi Perkantoran, dan Pendidikan Koperasi membuka masing-masing satu kelas untuk kelas bilingual. Namun pada kenyataannya dari 3 prodi tersebut yang mempunyai kelas bilingual baru pendidikan akuntansi saja, karena dua jurusan yang lain tidak memenuhi kuota.

Se-ngeri apa kelas bilingual itu?

Eits, jangan berpikiran aneh-aneh dulu. Kelas bilingual yang notabene dalam perkuliahan menggunakan 2 bahasa yaitu bahasa indonesia dan inggris, namun tetap bisa diikuti oleh saya yang inggrisnya masih pas-pasan.

Tak perlu minder, asal ada kemauan, tekad, dan berani berkorban in syaa Allah bisa bertahan di kelas ini.

Saya salah satu mahasiswa billingual class (BC) angkatan 2014 mau share pengalaman pendaftaran setahun yang lalu.

1. Seleksi Administrasi

Tahap awal seleksi adalah seleksi berkas. Kami diharuskan mengumpulkan fotokopi Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) dan Kartu Hasil Studi (KHS) ke jurusan.

Bagi yang mempunyai sertifikat tes TOEFL atau TOEIC dikumpulkan. Yang tidak ada bagaimana? No problem.

2. Seleksi Tulis dan Wawancara

Pihak jurusan mengumumkan nama-nama yang lulus seleksi administrasi. Kemudian mahasiswa yang lolos diundang untuk mengikuti tes tulis (bahasa Inggris) dan wawancara.

Apa bedanya kelas bilingual dengan kelas reguler?

Secara materi kuliah sama, mata kuliah yang diambil pun sama. Bedanya, untuk beberapa makul prodi ada yang pisah dari kelas reguler yang diikuti sebelumnya.

Contohnya nih pas semester 2, hanya 2 makul prodi BC yaitu accounting cost 1(akuntansi biaya 1) dan accounting financial 1(akuntansi menengah 1). Jadi tidak semua makul prodi ikut BC. Memasuki semester 3 lebih banyak makul yang di BC. Tercatat saya ikut kelas di rombel pendidikan akuntansi A hanya 2 makul, evaluasi pembelajaran dan etika guru.

Ada fasilitas khusus?

Yap, ada dong. Kita akan dapet modul berbahasa inggris gratis dari jurusan. Kita juga mendapat fasilitas untuk pengadaan dresscode rombel. Ruangan kelas (lab microteaching) yang nyamannya pakai banget banget. AC in syaa Allah on terus (kecuali kalau lagi mati xD). Kelas yang hanya 19 menjadi kondusif saat perkuliahan.

Dan yang paling penting, kita berani keluar zona nyaman untuk meng-eksplor kemampuan bahasa inggris kita. Khusus rombel kami,ada English Zone yaitu kawasan wajib berbahasa inggris full. Karena bisa itu karena biasa bukan?

Persaudaraan juga sangat kental lhoh, kami saling mendukung satu sama lain untuk maju mengembangkan potensi masing-masing.

[Source]

Sedikit Cerita Tentang Kelas Bilingual Pendidikan Ekonomi Unnes

Subscribe Our Newsletter